Bermula dari kehidupanku tiga bulan terakhir ini, kehidupan yang penuh dengan kekecewaan, sakit hati dan kesedihan, kehidupan yang membuat aku mulai selalu mengatakan “why You don’t rise me up to Your place Lord…”, semuanya terasa suram dan tidak bermakna, semuanya terasa kosong, pelajaran di kelaspun tidak dapat kupahami dengan mudah, aku berpikir keras tapi tetap tidak mengerti akan teori-teori yang aku pelajari, berpura-pura ceria sampai tidak tahan untuk berteriak, akupun berteriak, semua orang terkena dampak oleh kesakitan hati ini, oleh karena seseorang yang awalnya “sangat dekat” denganku menjadi “sangat jauh”, teman kantorku. Sampai pada satu titik aku benar-benar tidak tahan akan setiap hal yang aku alami, aku pergi ke konselor pada tiga minggu pertama sikap seorang “teman” itu berubah total padaku, aku pergi menemui Tuhan yang terasa tidak memiliki jawaban, kecenderungan untuk kecewa terus memenuhi hatiku walaupun sudah berdoa, aku terus menangis menghadapi orang sepert...